Tuesday, 15 December 2015

Biografi B.J Habibie

 Biografi B.J Habibie

















Biografi B.J Habibie - Banyak orang mencari mengenai kisah, profil atau biografi singkat B.J Habibie. Dia adalah salah satu tokoh panutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang di Indonesia dan juga Presiden ketiga Republik Indonesia, dialah Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Masuk ITB dan Kuliah di Jerman
Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di  Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH) Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain. Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.

B.J Habibie ketika Memberikan Ceramah
Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menghemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Rumus Faktor Habibie
Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai "Faktor Habibie" karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai "Mr. Crack". Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.
B.J Habibie dan Nyonya Ainun Habibie
Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

B.J Habibie Kembali Ke Indonesia
Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
....Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat dari negara mereka!
Pada tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, istri BJ Habibie, meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Kepastian meninggalnya Hasri Ainun dari kepastian Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR yang ditunjuk menjadi wakil keluarga BJ Habibie. Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas.
....Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya...saya mau kasih informasi, Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu" Papar BJ Habibie.
Film Habibie dan Ainun
Pada Awal desember 2012, sebuah film yang berjudul "Habibie dan Ainun" diluncurkan, film ini Mengangkat kisah nyata tentang romantisme kedua saat remaja hingga menjadi suami istri dan saat ajal memisahkan mereka. Film yang diambil dari buku terlaris karya BJ Habibie, Film ini di garap oleh dua sutradara yaitu Faozan Rizal dan Hanung Bramantyo, dengan pemeran Reza Rahadian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun Habibie.
Buku Habibie dan Ainun
Cover Film Habibie dan Aiunun
Pidato BJ Habibie ketika berkunjung Ke Garuda Indonesia
Dik, anda tahu, saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur, Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang

berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik, anda semua lihat sendiri, N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia. Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua?
...Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!

Pak Habibie menghela nafas, Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....
... Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia.

Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
− Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten− C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis− D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
..Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu...
...Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya, saya mau kasih informasi...... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu.

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam, seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan...
...Dik, kalian tau, 2 minggu setelah ditinggalkan ibu, suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu... Ainun.... Ainun ........ Ainun ........saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini...’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

  1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
  2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...
  3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga...
*(dari tayangan program di stasiun televisi 27 Januari 2012, P.Habibie bercerita, ternyata ada 4 opsi,bukan 3, dimana opsi yang belum tersebut di atas adalah, P.Habibie diminta bercerita tentang apa saja tentang bu Ainun kepada dokter, hampir sama dengan opsi 2)

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu).. ia melanjutkan pembicaraannya;

Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun.......dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat..... saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia.

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata.......
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
...Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui...

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu, semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh Habibie dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif.”

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :
  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN - 235
  • N-250
Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
  • · Helikopter BO-105.
  • · Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
  • · Beberapa proyek rudal dan satelit.
Sebagian Tanda Jasa/Kehormatan B.J Habibie :
  • 1976 - 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
  • 1978 - 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  • Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
  • 1978 - 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
  • 1978 - 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
  • 1980 - 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
  • 1983 - 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
  • 1988 - 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
  • 1989 - 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
  • 1990 - 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
  • 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
  • 10 Maret - 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
  • 21 Mei 1998 - Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia.
Itulah sekelumit kisah tentang biografi B.J Habibie, banyak hal menarik dan inspiratif yang bisa dipetik dari kisah perjuangan beliau bersama dengan istrinya, Nyonya Ainun Habibie. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan berguna bagi pembaca biografiku.com sekalian.

Berikut Daftar Biografi atau Profil Presiden yang pernah memimpin Indonesia :
  1. Biografi Ir. Soekarno Presiden Pertama Indonesia
  2. Biografi Soeharto Presiden Kedua Indonesia 
  3. Biografi B.J Habibie Presiden Ketiga Indonesia 
  4. Biografi KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) Presiden Keempat Indonesia 
  5. Biografi Megawati Soekarno Putri Presiden kelima Indonesia
  6. Biografi Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Keenam Indonesia
  7. Biografi Joko Widodo (Jokowi) Presiden Ketujuh Indonesia (Sekarang)

Wednesday, 9 December 2015

Serikin

Jagoi Babang adalah perbatasan yang dekat dengan sebuah kampung yang di namakan Kampung Serikin.Kampung Serikin adalah merupakan wilayah Malaysia.Awal sejarah permulaan perdagangan di Serikin adalah pada 1992.

Dimana asal mulanya warga Indonesia datang berjualan buah dan awal kemasukan kain batik yang terjadi pada zaman itu.Pada mula awal perbentukan pasar kecil adalah di depan penduduk kampung Serikin dimana suaminya berasal dari Kalimantan Barat Indonesia.Menemui tetangan banyak pihak pada ketika itu.Untuk mendapatkan perlindungan mereka penjual2 ketika itu berjualan hanya dgn membentangkan karpet atau tikar dan sebahagian nya menggunakan karung untuk memamerkan barangan mereka.Merasa selamat ia menjadi buah mulut dan pedagang2 dari seberang berdatangan mencari rezeki ,sehingga kini memenuhi pasar kampung ini.

Serikin sangat terkenal,sehingga banyak yang mengenal kampung ini,dari mulut ke mulut ataupun pihak media.

Selain kedatangan pembeli dari dalam negara,faktor,jalan yang mulus dari Kab.Bengkayang -Batas juga memudahkan penduduk dari negeri jiran untuk melihat pasar yang terkenal dengan barang2 asli buatan Indonesia.Mulusnya jalan hasil pembinaan proyek PPLB 2011 serta ketat nya pengamanan dari pihak berkuasa kedua2 pihak negara membuat rammai pelancong datang membeli barang disini.

 

Dimanakah Serikin? Hmm, Serikin sebenarnya adalah nama kampung. Kampung Serikin, terletak tidak jauh dari sempadan Malaysia - Indonesia (Kalimantan). Apa yang ada di Serikin? Cakap sahaja apa yang anda mahu asalkan pandai menawar segalanya pasti jadi milik anda. Dari tikar rotan, tikar endon, jam, kacamata, jaket, jeans, telekong, sejadah, comforter, kerusi rotan, candalier, jaket kalis peluru, biker's item, jersi bola, baju team F1, busana muslim & muslimah langsir, batik, pelikat, home decoration, madu lebah, kosmetik, jamu Indon, barangan kristal, minyak lintah, oven, audio system dan banyak lagi.... sehingga tak terkira hendaknya.


Memanglah tak dapat dibandingkan dengan Pasar Besar Bukit Hitam di Perlis or Rantau Panjang di Kelantan tetapi Serikin punyai keunikan tersendiri. Rata-rata pengunjung ke Serikin pasti puas hati. Kalau dahulu Tebedu menjadi pilihan, kini setelah kompleks di Tebedu dipindahkan ke dalam kawasan Indonesia, ramai terus memilih Serikin kerana masih dalam kawasan Malaysia. Usah khuatir sebab abang-abang askar kita berkeliaran kat Serikin. Bayangkan se-set kain untuk baju kebaya siap dengan selendangnya boleh dapat RM 30 walhal diorang bukak RM 45. Cuba try usha kat Jalan Masjid India di KL, diorang jual kain yang sama macam di Serikin dengan harga RM120. Belum lagi masuk kain Samarinda, batik Doa Ibu, kain Palembang dan banyak lagi.

Sekali lagi satu pesanan, kalau ke Serikin:
  • Pakai sun-block lotion. Cuaca kat sana panas sebeb kat garisan Khatulistiwa
  • Bawak payung
  • Kalau nak parking, better parking depan rumah orang. Walaupun dia mintak bayar RM2, bayar je RM3 sebab lagi selamat.
  • Better jangan bawak budak kecik sebab takut tak tahan cuaca panas atau tak tahan nak layan diorang sebab nak beli mainan
  • Better bawak sling bag untuk letak wallet. Takutlah ada pick pocket ke.
  • Kalau nak buat urusan-tawar menawar, tunggu hingga tinggal kita aje pelanggan yang ada dalam kedai tu. Memang diorang kasi harga rendah. Kalau tak pun, carik kedai yang lengang. Kalau orang ramai, sure diorang tak nak bagi harga rendah takut nanti semua orang nak claim harga murah.
  • Bila bayar, contohnya harga RM 45, bagi je duit RM50, sebabdiorang jarang ade duit pecah. So, korang tekan jer RM40. Untung lagi RM5.
  • Jangan bawak kereta masuk ke sepanjang Serikin. Percuma korang kena sumpah semua orang.
  • Survey dulu sampai ke kedai hujung dan belakang. Takut korang menyesal ada kedai bagi harga lebih murah.
  • Pergi ke Serikin mestilah santai dan sempoi. Pakai pakaian yang memudahkan anda bergerak tanpa sebarang gangguan.
  • Masa: Jangan berebut dengan masa. Slow and steady sebab korang akan rasa lebih berbaloi kalau punyai masa yang lebih lama.

Tuesday, 1 December 2015

Swedish torch malaysian style




 

Kali ni admin nk cite pasal kelebihan swedish torch, biasa pembuatan swedish torch mengunakan log kayu dan dibelah 4 atau 8 dgn chain saw. jadi admin ubah suai utk tip survivor dlm hutan atau sbg bara api utk menghalau binatang liar atau utk memasak dan biasanya swedish torch ini dpt bertahan 10-12jam bergantung pd saiz log yg digunakan.
Utk membuat swedish torch cara malaysia apa yg diperlukan ialah
1.gergaji lipat / kapak / parang
2.dawai / tali
3.8 btg kayu sepanjang 2kaki
3.ranting2 halus dan sederhana
4.firestarter spt getah tiub dsbnya

Seterusnya setelah kayu2 dan ranting2 disediakan ikat kayu tersebut dgn dawai atau tali di bhg bawah sekali. Slps itu korek lubang sedalam 2inci. Masukan kayu yg di ikat tadi dan kukuhkan kayu dgn menambak2 disekeliling supaya ia tegap berdiri. Seterusnya masukan ranting2 kecil dicelah2 kayu dan nyalakan api dgn getah tiub. Seterusnya tambah sedikit demi sedikit ranting2 halus dan sederhana sehingga kayu yg dikat tadi menjadi bara.

Tuesday, 17 November 2015

MARI KITA KENALI PAHLAWAN MURUT SABAH


Nama Daerah Tenom di ambil bersempana dgn Nama seorang legenda Pahlawan Murut yg bernama Ontoros/ Antanom (Tenom)...
Tokoh negara | Antanom Pahlawan Anak Rimba Berjiwa Besar
Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah mengenai perjuangan Antanom menggerakkan pemberontakan Rundum menentang penjajah pada tahun 1915 yang ditulis oleh sejarawan Barat; ada fakta yang perlu dibetulkan dari segi nama sebenarnya yang memimpin pemberontakan itu.
Menurut tradisi orang-orang Inggeris, mereka lazimnya menyebut nama keluarga daripada nama peribadi. Orang yang memimpin pemberontakan Rundum itu ialah anaknya bernama Ontoros dan bukan Antanom bapanya. Disinilah berlakunya kekeliruan fakta. Bagaimanapun, oleh kerana nama Antanom sudah terkenal dan tercatat dalam sejarah tanahair, buku yang akan terbit mengenai pemberontakan itu mengekalkan nama Antanom itu sebagai Ontoros.
Antanom atau Ontoros dilahirkan di kawasan " Masinpunon " sungai Salarom pada tahun 1885 dan berumur dalam lingkungan 30 tahun ketika pemberontakan itu dilancarkan.
Antanom adalah anak keturunan Suku Murut Tagol dari golongan bermartabat mengikut adat istiadat kaum murut. Dia dibesarkan dalam zaman daerah kampungnya dilanda oleh persengketaan kaum dan oleh ancaman pemburu kepala kaum Dayak dari kawasan perbatasan atau dikenali dengan istilah " Pengayau ".
Didikan yang diterimanya ialah mengenal kehidupan rimbanya dan bermain senjata. Jiwanya dibentuk agar menjadi seorang kalawon atau pahlawan dan semangat sedia berkorban telah disemai dalam hidupnya supaya bertanggungjawab melindungi keluarga dan kaumnya.
Orang pengecut tidak ada tempat dalam dunia rimba. Didalam keadaan persekitarannya bergolak oleh permusuhan kaum yang berpunca dari hutang darah, Antanom/Ontoros tidak ada pilihan, selain daripada berwatak keras dan berani. Jika pun dia menjadi jahat dari kacamata Inggeris, kerana tidak tunduk kepada kuasa mereka, bukanlah kerana Tuhan membentuknya menjadi orang ganas, tetapi suasana persekityarannya yang memaksa Antanom/Ontoros bertindak demikian.
Perwatakan Antanom/Ontoros yang berbadan tegap berambut panjang itu, bila lengkap berpakaian tradisi, bercawat dengan tombak ditangan dan Pailang tersisip dipinggang, dia kelihatan gagah dan mengerunkan. Sikapnya tegas dan tenang dalam menghadapi bahaya. Bila dia telah memutuskan sesuatu, dia akan kotakan kata-katanya dan bertindak dengan penuh keazaman.
Antanom dikagumi bukan saja kerana kehebatannya menggerakkan pemberontakan menentang Kompeni Inggeris itu, tetapi lebih kepada kewibawaannya menyatupadukan kaumnya yang ketika itu sedang dilanda sengketa dan perpecahan. Inggeris sendiri mengakui keistimewaan Antanom mendamai dan menyatupadukan suku-suku Murut yang bermusuhan itu.
Faktor yang menyebabkan tercetusnya penentangan kaum Murut terhadap Kompeni Inggeris didorong oleh beberapa sebab yang telah terkumpul dan menjadi bara. Sejak tahun 1909 gerakan menentang Inggeris sudah dimulakan oleh kaum Murut, tetapi setelah dua orang pemimpinnya terbunuh, Linggam dan Melayak, gerakan penentangan itu terhenti buat sementera waktu. Api yang tidak menjilat batang, daun dan ranting; tidak bererti api tidak bersembunyi dibawah tanah memakan akar.
Kemarahan dan kegelisahan kaum Murut terhadap Kompeni Inggeris berpunca dari empat perkara utama. Hak mereka dicerobohi, bila ramai daripada pedagang hasil hutan dibenarkan mengutip hasil hutan di pedalaman. Mereka dijadikan buruh paksa membina jalan denai ( Jalan Kuda ) dan merentang kawat telegraph antara Tenom ke Rundum tanpa upah. Upah yang diberikan kepada mereka sekadar rokok tembakau sahaja. Mengenakan cukai kepala, padi dan tapai juga menyumbang kepada kemarahan mereka. Semuanya ini pada pandangan mereka adalah tidak wajar. Kehidupan mereka yang merdeka dan bebas di kawasan belantara luas itu telah terganggu.
Keadaan bertambah buruk lagi pada tahun 1910 apabila Kompeni Inggeris menghantar buat pertama kalinya seorang Pegawai Daerah Mazwell Hall, membuka setesen di Rundum, sebagai langkah menyekat kegiatan memburu kepala.
Seramai tidak kurang 900 orang kaum Murut dari beberapa kawasan, termasuk Tenom, Keningau, Pensiangan dan perbatasan daerah Borneo Belanda, telah menyertai gerakan pemberontakan itu. Beberapa buah kubu pertahanan telah dibina di Selangit sebagai kubu induk atau digelar Silar Pinikit, diikuti oleh beberapa buah kubu lagi di Menining ulu sungai Telokoson, Kubu Liohon, Kubu Impal dan Kubu Salang. Kubu-kubu ini dibina sekitar tahun 1913 sehingga 1915 dengan paduan tenaga seluruh kaum Murut di kawasan Pedalaman. Serangan ke atas setesen Rundum merupakan serangan pramasa. Antanom/Ontoros sebenarnya tidak mahu melancarkan serangan terburu-buru, kerana banyak lagi kubu mereka belum siap dibina.
Dalam pertempuran di kubu induk mereka, Antanom/Ontoros diperdaya dengan gencatan senjata dan niat untuk berdamai, tetapi sebaliknya mata-mata upahan Inggeris telah memenggal kepalanya. Bagaimanapun, banyak fakta yang sebenar berlaku, telah dipesongkan oleh sejarawan Barat. Kalaupun bukan dengan sengaja, niat melindungi maruah Empayar British itu tetap ada, sehingga segala fakta menjadi kabur.

Monday, 2 November 2015

tips membeli motosikal second hand

Ramai di antara kita yang nak beli motor,tak kiralah motor baru atau yang second hand. Info permotoran pada kali ini ingin berkongsi tips mengenai beli motor second hand sebab ramai antara kita termasuklah saya sendiri rambang mata bila pergi menjengah ke kedai-kedai menjual motosikal.

Ha.. sebabnya kat sana motor second hand pun kalau sekali pandang macam motor baru juga.Logiknya salesman kat situ tidak akan `kondemkan` motosikal yang mereka nak jual tapi anda jangan terus percaya bulat-bulat sebaliknya buat dulu beberapa perkara.

1.Mula-mula periksa dulu casisnya adakah pada pandangan mata kita agak bengkok. Pergi ke bahagian depan,tegakkan motosikal seolah-olah sedang bergerak lurus. Bongkokkan badan anda dan lihat tayar depan dan belakang sejajar atau tidak? Begitu juga lakukan perkara yang sama pada bahagian belakang.Kalau tak sejajar ada kemungkinan casis bengkok. Mungkin motor tersebut pernah terlibat dengan kemalangan teruk.

2.Biarkan motosikal berdiri tegak dengan menggunakan tongkat tengah. Perhatikan pada batang fork, adakah terdapat kesan minyak kerana itu tandanya getah pengadang minyak tersebut telah rosak mungkin tak pernah ditukar oleh pemilik dahulu. Kemudian ada tak kesan calar pada batang fork, walaupun tiada kesan minyak tetapi kadang-kadang pekedai telah menukar pengadang getah yang baru. Ini selalu terjadi apabila kita menggunakan motor tu nanti pengadang minyak akan cepat rosak akibat daripada batang fork yang sudah tidak licin. Lambat laun minyak dari batang fork akan keluar… hati-hati..

3.Periksa swing arm dengan menggoyangkan kekiri dan kekanan dengan kuat. Caranya dengan memegang roda belakang dan goyangkan. Apabila terasa seperti sesuatu yang longgar bermakna bush swing arm tersebut telah haus. Ini berlaku ke atas diri saya sendiri apabila ‘koner’ terasa macam nak tergolek. Bila dah periksa baru tahu swing arm telah bergoyang.

4.Hidupkan dahulu enjin motosikal tersebut dengar alunan bunyinya. Ingat bukan bunyi motor yang kena dengar tetapi amati bunyi pada blok enjinnya. Adakah bunyinya agak kasar atau seperti benda longgar kerana ada kemungkinan rod dan bearingnya telah haus dan ini memerlukan belanja yang agak lebih setelah anda membelinya.

5.Kalau nak tahu motor tu ’sedap’ lagi atau tidak kena la tunggang. Cuba bawa kelajuan antara 100-110km/j kuat tak gegarannya. Kalau sederhana ok lagi tu mungkin balancing tayar dah tak cantik. Tapi kalau kuat sangat lebih baik lupakan, bukannya apa takut-takut membabitkan enjin je…. koyak poket nanti he..he…

6.Kebiasaannya kedai akan bagi waranti selama sebulan je lebih dari tu tanggung sendiri.Jadi dalam tempoh tu jangan takut-takut nak komplen pada pekedai.Biar kita buat-buat cerewet sikit kalau tak nanti dia putar belitkan anda nanti.Pastikan juga jangan buat sebarang pengubahsuaian terhadap motosikal anda dalam tempoh waranti kerana secara automatik waranti tersebut akan dimansuhkan oleh mereka.

7.Kalau boleh..tapi rasanya wajib membawa kawan yang tahu serba sedikit tentang teknikal motosikal sekiranya anda adalah penunggang baru. Tak semestinya bawa mekanik tapi lagi bagus kalau ada… kerana mereka yang sudah berpengalaman juga tahu serba sedikit mengenainya.

Tips yang saya beri ini sesuai untuk motosikal bawah 150cc kerana ianya datang dari pengalaman saya sendiri.. lebih dari itu mungkin juga boleh dijadikan panduan
Back to top Go down

Wednesday, 26 August 2015

Tun Temenggung Jugah Anak Barieng



Tun Temenggung Jugah Anak Barieng
Tun Temenggung Jugah Anak Barieng

Tun Temenggong Jugah Anak Barieng or Tun Jugah (1903 – July 1981) was a Malaysian politician of Iban descent from the state of Sarawak. He was the first Sarawakian Minister in the Malaysian Federal Parliament. He played a fundamental role in bringing the state of Sarawak into the Federation of Malaysia in 22 July 1963. He was a member and president of the United Traditional Bumiputera Party until his death in 1981

Jugah in the words of Tun Abdul Rahman Ya’kub, former Chief Minister of Sarawak and Governor of Sarawak, ‘ was a bridge between Sarawak and Malaya.’ He was a major figure and factor in the entry of Sarawak -and the Iban- into Malaysia. Vinson H Sutlive Jr in his book ‘Tun Jugah Of Sarawak: Colonialisme and Iban Response’ revealed Jugah’s very own philosophy, ‘Give life to yourself first. Once your foundation is solid, then you can talk and act.’ (Idup ka nyawa dulu. Udah urat tegap, baru kitai ulih bejaku). Thus, he was a chief (penghulu) of renown in the Brooke Raj, a chief (sanji) under the Japanese, and Paramount Chief (Temenggung) during the British period, and Federal Minister in Malaysia.

He was a recipient of numerous honours conferred by the state and federal governments. He received Darjah Panglima Negara Bintang Sarawak (PNBS), and the Title of Datuk, From Sarawak Goverment, and the same year, Panglima Gemilang Darjah Kinabalu (PGDK) with the title Datuk from Sabah Government. The third honour for the year, 1964, were confered by The King, with the title Tan Sri, that is Darjah Yang Mulia Panglima Mangku Negara (PMN).

Tun Jugah and HRH The Duke Of Edinburgh
Tun Jugah and HRH The Duke Of Edinburgh

Left to right: Sir Malcolm McDanald, Temenggung Jugah, Temenggung Jinggut anak Atan and Temenggung Sibat Anak Buyong
Left to right: Sir Malcolm McDanald, Temenggung Jugah, Temenggung Jinggut anak Atan and Temenggung Sibat Anak Buyong

KANANG ANAK LANGKAU


images

kanang


Kanang anak Langkau was born in 1945 in Julau, Sarawak. He entered military service with the with the British Army, as an Iban Tracker, attending Jungle Warfare School in Ulu Tiram in early 1962. Kanang was attached to the  42 Comando serving during the Brunei revolt and during the Indonesia-Malaysia Confrontation. He later served with the Royal New Zealand Infantry Regiment. He was absorbed into the Sarawak Rangers which eventually became part of the Malaysian Rangers when Malaysia was proclaimed on 16 September 1963.

In the Malaysian Military History he is one of the very few survivors ever conferred the “Seri Pahlawan Gagah Perkasa” whilst still alive and a “Pingat Gagah Berani” the only person has ever received two gallantry awards in the history of the Malaysian Armed Forces.
The series of his Story narrated as below

In an operation in the Korbu Forest Reserve at Fort Legap on the 1st June 1979 whilst on a mission tracking the enemy, Sgt Kanang’s group came across a temporary enemy resting camp, he and hid 8th Battalion Royal Rangers immediatedly launched an attack on enemy that far outnumbered their group. Two of the Rangers went down, mortally wounded. Five of the enemy were killed, enemy equipment too were captured. He was conferred the highest gallantry award, the “Pingat Gagah Berani” by his Majesty the King.

In another operation,  8th Battalion Royal Rangers was tasked to conduct the follow up  on an enemy ambush on a section of soldiers from the 20th Battalion Royal Malay Regiment at Ladang Kinding, Sungei Siput, Perak. One of the follow up groups was commanded by him. Sergeant Kanang who was a skilled tracker managed to track down the enemy. He made contact with the enemy, several of his soldiers were wounded. Even after experiencing casualties, his morale and the indomitable fighting spirit of the Ranger Corps within him remained high.

Sarjan(Sargeant) Kanang Anak Langkau was leading the Unit Combat Intelligence Platoon of 8th Battalion Royal Rangers(now known as 8th Paras). This platoon was tasked to track down and destroy a group of communist terrorists who were present in the operational area. Who awhile ago shot dead one soldier in the Tanah Hitam area of Perak on the 8th February 1980.

This dogged pursuit and tracking of the enemy took 11 days ! he managed to doggedly track and identify the enemy’s exact route of escape. On the evening of 19th February 1980 at around 1500 hours in the afternoon, after conducting a recconnaisance with great caution and care, his platoon mananged to estimate the location of the enemy, which was located not very far from their location.
Actually they were inside the location of the enemy, as they were at the foot of the hill. They only realised that they were inside the enemy’s location when they found a communictions cord from the enemy sentry’s location. This cord was running from the sentry’s location to the enemy’s main force. This cord is normally attached to a small bush or empty cans which make noise when pulled. This way the main force can be alerted by the sentry when an enemy approaches.
At that moment Sergeant Kanang was approximately 8 meters from the enemy sentry’s location. Realising that, he launched the assault towards the right by firing towards the right of the enemy along with his platoon. After lauching the attack to the right, it suddenly struck everyone that the enemy’s main force was on the left, below the slope of the hill. Without losing his senses, he switched the direction of fire to the left, at the same time changing the direction of the assault to the left.

They ploughed into the enemy, a large force of the enemy managed to escape. The platoon and Kanang on that day managed to bag five Communist Terrorists on that day. Even with that success, they were saddened by the loss of one of their group who was killed and one more seriously wounded.Whilst trying to rescue his wounded friends, Sergeant Kanang himself was repeatedly shot, he took three rounds from the enemy into his body. The will to live and fight another day was strong, he recuperated and was back on active duty.
Kanang anak Langkau following the highest fighting traditions of the Ranger Corps was conferred the “Seri Pahlawan Gagah Perkasa” for valour in decimating the enemy on the 3rd June 1981 by his Majesty the King.

RETIREMENT

Kanang retired after 21 years of service as a First Warrant Officer. He was the Temenggong (paramount chief) of the Iban in Sri Aman,his place of residence. He was awarded the Officer of the Most Exalted Order of the Star of Sarawak (PBS) (Malay: Pegawai Bintang Sarawak) in 1987.

On 15 April 2009, he made headlines after rescuing a baby orangutan from captivity with his friend, Tay Choon Yong. The baby orangutan was being handed to Semenggoh Wildlife Centre.

On 24 September 2011, he was conferred the Commander of the Order of the Star of Hornbill Sarawak (PGBK) (Panglima Gemilang Bintang Kenyalang), with the title of Datuk by the Abang Muhammad Salahuddin, the Head of State’s 90th Birthday.

In 2011, Kanang supervised Operation Mai Pulai. This operation involved the locating and exhumation of the remains of 21 Iban Trackers and Sarawak Rangers who were killed during the Second Malayan Emergency. Their remains were exhumed from multiple location on the Malay Peninsula and returned to Sarawak where they were ceremonially reburied in July 2011.

DEATH AND LEGACY

On 3 January 2013, he collapsed while watching television at home in Sungai Apong, Sri Aman after complaining of chest pains. Immediately rushed to the Sarawak General Hospital, he was pronounced dead at the age of 68.

According to the Minister of Defence, Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi, he will be given a national burial. His coffin, draped in the Jalur Gemilang (Malaysia Flag) and the colours of the Malaysian Armed Forces, was first brought to the 1st Infantry Division base located at Bukavu Camp in Penrissen for the family members and friends to perform prayers and miring ceremony (offering ceremony), before being brought to Kuching Civic Centre for the public to pay their last respects. He was buried at the Heroes’ Grave in Jalan Taman Budaya, after the funeral prayers at St.Thomas Cathedral in Kuching.
Military honours and awards
  • Seri Pahlawan Gagah Perkasa.gif Seri Pahlawan Gagah Perkasa (SP) (Supreme Gallantry Award)
  • Star of the Commander of Valour.gif Panglima Gagah Berani (PGB) (Star of the Commander of Valour)
  • Malaysia General Service Medal 1971.png Pingat Perkhidmatan Am (PPA) (Federation General Service Medal)
  • MYS Federation Loyal Service Medal.png Pingat Perkhidmatan Setia (Federation Loyal Service Medal)
  • Pingat Jasa Malaysia ribbon.png Pingat Jasa Malaysia (Malaysia Service Medal)
  • General Service Medal 1918 BAR.svg General Service Medal (1918) (United Kingdom) with “Brunei” clasp (for the participation in Brunei Revolt)
  • General Service Medal 1962 BAR.svg General Service Medal (1962) (United Kingdom) with “Borneo” clasp (for the participation in Indonesia-Malaysia Confrontation)
State honours and awards
  • Panglima Gemilang Bintang Kenyalang (PGBK) (Order of the Star of Hornbill - Knight Commander) (1988).jpg Panglima Gemilang Bintang Kenyalang (PGBK) (Commander of the Star of the Hornbill of Sarawak) (2011)
  • Orde van de Ster van Sarawak.jpg Pegawai Bintang Sarawak (PBS) (Commander Most Exalted Order of the Star of Sarawak) (1987)
A Malay language novel used in secondary schools in Malaysia called Kanang, Cerita Seorang Pahlawan (“Kanang, The Heroes Story”), written by Mazlan Nordin, is a story about Kanang anak Langkau.